Akpar ULCLA Mengadakan FGD Arah Implementasi

Pemerintah RI telah menetapkan Pengembangan Pariwisata di Kawasan Danau Toba sebagai salah satu dari 5 Destinasi Super Prioritas serta ditetapkannya Kaldera Danau
Toba sebagai Unesco Global Geopark pada sidang Eksekutif UNESCO menambah nilai lebih, popularitas dan tambahan daya tarik pariwisata.
Presiden Jokowi menetapkan beberapa kebijakan yang dipilih antara lain : (1) Pengembangan destinasi fokus pada 5 kawasan, yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang (2) Pengembangan Aspek 3A serta peningkatan 2 P (3)Pendekatan storynomics tourism yang mengedepankan narasi, konten kreatif, living culture, dan kekuatan budaya, serta pemanfaatan skema KPBU.
Menparekraf RI menyatakan tiga program pengembangan dan pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pada tahun anggaran 2021, meliputi :
(1) Program dukungan manajemen.
(2) Program kepariwisataan dan ekonomi kreatif.
(3) Program pendidikan dan pelatihan vokasi.


Yayasan Sahala Panggabean Nasari (SAPARI) sebagai penyelenggara Akademi Pariwisata (Akpar) ULCLA di Kawasan danau Toba, Keberadaan Akpar ULCLA di kawasan Danau Toba turut serta dalam pengembangan kelembagaan desa wisata untuk mempercepat pengembangan dan pemulihan sektor pariwisata khususnya di kawasan Danau Toba.
Tujuan Kegiatan Pendidikan Vokasi Akpar ULCLA siap berperan aktif dalam pendidikan dan pelatihan,
Peningkatan Kualitas SDM Sektor Pariwisata Serta Ekonomi Kreatif dan Digital di destinasi super prioritas danau toba.

Forum diskusi (FGD) dilaksanakan pada Sabtu (10/10/20) secara virtual (zoom). Acara FGD ini diawali dengan pembacaan doa dan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Adapun hadir sebagai Key Note Speaker adalah: Odo R.M. Manuhutu.
(Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi).
Juga Hadir sebagai Moderator dalam acara Forum Group Diskusi ini : Frans  M. Panggabean. (Dewan Pembina Akpar ULCLA).


Adapun Topik FGD kali ini  : Arah Implementasi Kebijakan Pemerintah Membangkitkan Industri Pariwisata Pasca Pandemi covid-19.
Hadir juga sebagai narasumber :
1. Dr. Frans Teguh, MA
(Staf Ahli Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Bidang Pengembangan Berkelanjutan & Konservasi)
Topik : Peran Sentral Pendidikan dan pelatihan Vokasi dalam Peningkatan Kualitas managemen Program Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif.
2. Dr. Ir. Budi Situmorang, MURP
(Dirjend Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.)
Topik : Ecowisata dan Agrowisata yang Berorientasi Pada Kelestarian Alam
Berkelanjutan di Kawasan Danau Toba.
3. Arie Prasetyo
(Direktur Utama Badan Pelaksanan Otorita Danau Toba /BPODT).
Topik : Pengembangan Desa Wisata Sebagai Prioritas Pendukung Kawasan Danau Toba beserta Tantangan Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat.
4. Dr. Ria Nofida Telaumbanua, M.Kes (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara) yang hari ini diwakilkan oleh Simon Siregar.
Topik : Pemulihan Pariwisata Kawasan Danau Toba Pasca Pandemi Berbasiskan
Cleanliness, Heatlh, Safety, Environment (CHSE).
Hadir sebagai Panelis di FGD ini antara lain :
1. Pdt. Dr. Martongo Sitinjak (Kepala Departemen Koinonia HKBP)
Topik : Peran Gereja Dalam Mengubah Mindset dan Revolusi Mental Masyarakat
Menuju Sadar Wisata
2. Prof. Dr. Ir. Santun R. P. Sitorus (Pakar Agro Bisnis IPB)
Topik : Peluang Agrowisata dan Ecowisata Menjadi Destinasi Pendukung Sekaligus Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.
3. Dr. Ir. Johnny Walker Situmorang, MS (Ketua Komunitas Samosir Maju)
Topik : Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Sebagai Partisipasi Aktif Masyarakat di Kawasan Danau Toba.
Dalam paparannya Simon Siregar mengatakan, ” Ada lima unsur yang harus dipenuhi  untuk menjadi kawasan pariwisata ( agro wisata) di Indonesia, termasuk kawasan destinasi Danau Toba’.
Lima unsur yang harus dipenuhi untuk menjadi kawasan pariwisata (agro wisata) di danau toba  tersebut yaitu :
1. Attractions.seperti hamparan kebun/ lahan pertanian, keindahan alam, kemudahan taman, budaya petani serta segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas pertanian tersebut.
2.Facilities.
Fasilitas yang diperlukan mungkin penambahan sarana umum seperti toilet yang bersih, souvenir, telekomunikasi, hotel dan restoran
3.Infrastrukture.
Infrastruktur termasuk sistem pengairan, jaringan komunikasi, fasilitas kesehatan, terminal pengangkutan, sumber listrik dan energi, sistem pembuangan kotoran dan pembuangan air, jalan raya dan sistem keamanan.
4.Transportation
Transportasi umum, terminal bus, keamanan penumpang, sistem informasi perjalanan tenaga kerja, kepastian tarif, peta kota objek wisata.
5.Hospitality
Keramah-tamahan masyarakat juga akan menentukan keberhasilan sistem pariwisata yang baik.

Sementara Ir.Budi Situmorang menambahkan ,”  Kawasan destinasi danau toba adalah termasuk salah satu dari 10 destinasi yang masuk proyek strategis nasional RPJMN 2020-2024 ( Perpres 18/2020, tgl 20 Januari ) yaitu membuat PDB naik, meningkatkan devisa, meningkatkan jumlah wisatawan domestik maupun manca negara”.
Adapun 10 desa yang di jadikan desa wisata di DSP Danau Toba yaitu :
1. Desa Pearung.
2.Desa Tipang.
3. Desa Marbun Toruan.
4. Desa Sigapiton
5.Desa Meat
6. Desa Tarabunga
7. Desa Lintong Ni Huta
8.Desa Huta Ginjang
9.Desa Huta Nagodang
10. Desa Dolok Martombur.

 

Pembangunan yang sudah di laksanakan di kawasan Danau Tob pada tahun 2020 di Toba (Pembangunan kios kuliner, Sunset Beach Lumban Gaol), Humbang Hasundutan (Kios Cenderamata, Kecamatan Bakti Raja),Karo (Tempat ibadah / Mushola, Kecamatan Brastagi), Taput (Tempat Parkir, Kampung Nenas Onan Runggu).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bc Meximas Web Solutions