Oposisi Swasta defisit personel, budget, support & otak. Pecatan Komisaris Rafly Harun mudah dikasi panggung. Staging-nya lebi lebar dari Neno Warisman yang berulang kali membuktikan dirinya konsisten & tolak perubahan landscape.

Rafly Harun menyatakan, “Gatot-Anies dipersatukan sebagai simbol perlawanan. Hasilnya Dasyat…!!”

Gatot-Harun adalah “Frenemy” bagi Anies Baswedan. Jangan naive-naive amat. Gatot Nurmantyo kategori The Competitor. Rafly Harun adalah The Gossip Frenemy.

Menempatkan Anies Baswedan sebagai Wakilnya Gatot Nurmantyo membuat Rafly Harun nyabet surpluz predikat: “The Underminer”.

Tawaran Kombinasi “Gatot-Anies” punya motif mengekstraksi cairan liquid cash dari Bohir Pro Anies seperti JK’s circle.

Anies Baswedan dirugikan dengan aksi theatrical deklarasi. Panen bully. Dituduh membiarkan Covid-19 menciptakan kluster baru. Dukungan terhadap Demo-Buruh akan berdampak serupa.

Target pasar “Gatot-Anies” ya itu-itu juga. Malahan kelompok yang tau “Skandal Bom Cawang” akan tarik dukungan.

Gatot Nurmantyo’s emergence menguntungkan Anies Baswedan. To some extend. Relaxasi bully. Target bully pindah. Anies Baswedan mestinya membuat garis distingsi dengan Klik Baru. Langkah #1 mengambil ceruk kiblat Nasionalis Merah-Putih.

Pro Gatot pasti akan merendahkan elektabilitas Anies Baswedan. Ngga sampai ambruk. Cukup di bawah Gatot Nurmantyo. Sehingga relevan jadi Calon Wapres. Enak di mereka. Ngga enak buat Aniser.

Politik subversif Amerika. Cirinya Anti-Chinese Card. The same pattern since 10 Mei 1963. Kerusuhan Rasialis di Bandung.

Gatot Nurmantyo muncul. Diikutin Kasus “Ahon-Stupid” pake Plat Militer. Kolaborasi Taipan Kaya dengan Pejabat seperti Kasus PKS Lahan Kuburan Mangga Dua tidak disentuh. Targetnya selalu Tionghoa grassroot. Sebagai Political Kollateralschaden.

Fenomena perilaku memalukan 1-2 Etnis Tionghoa macam “Ahon -Stupid” ngga bisa dieliminasi. Dia begitu karena merasa punya beking pribumi.

Menjadi head-line karena ngga biasa. Artinya mayoritas perilaku Etnis Tionghoa ya biasa-biasa aja.

Ada yang bagi makanan gratis tiap sore selama 4 bulan awal pandemic. Jusuf Hamka dagang Nasi Kuning 3 ribu 1 porsi. Semuanya tak terekspose karena biasa. Media adopsi bad news is good news. Amerika ngga berkepentingan dengan perilaku standard.

Penguasa membiarkan Anti-Chinese behavior dalam batas toleransi. Supaya soliditas rakyat menjadi rapuh. Rakyat lemah sama artinya penguasa kuat.

Tapi bila teledor, sentimen bisa bermetamorfosis menjadi gerakan seperti yang diinginkan Proxy Amerika. Dan itu akan sangat membahayakan rezim Jokowi.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=335692094406438&id=100038969493664

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bc Meximas Web Solutions