Dalam rangka menuju kepastian hukum terkait System Penanganan Problematika COVID-19 Fachruddin ciptakan suatu teori yang bersumber dari beberapa pandangan yang telah terolah dalam suatu rumusan.

Teori tersebut pernah disampaikan dalam acara Seminar Nasional (Online) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa IAIN Palopo – Sulawesi Selatan (23/04/2020) dengan menggunakan Sytem online yang diikuti oleh beberapa Perguruan Tinggi Islam se-Indonesia.

Kepada sejumlah Wartawan melalui Phone Celluler Fachruddin memaparkan bahwa jika ada suatu peristiwa apapun yang terjadi di atas dunia yang mengakibatkan terjadinya suatu korban maka masing masing saksi berusaha untuk membantu sesuai keahlian dan kemampuan yang dimiliki.

“Contoh dalam suatu peristiwa tabrakan antara motor dan mobil yang mengakibatkan terjadinya korban kecelakaan terhadap pengendara motor, maka masing masing berusaha untuk memberikan bantuan dalam bentuk tindakan “ paparnya.

Seorang ahli kesehatan berkata “segerakan dibawa ke rumah sakit agar korban segera tertolong karena si korban mengeluarkan darah”, beda lagi dengan kata pak kyai “sabar urusan nyawa ditangan Tuhan jangan terburu buru, kalau sudah ajalnya tampa harus tabrakan tetap mati juga, tapi kalau belum ajalnya maka separah apapun kecelakaanya tetap nyawanya akan tertolong”, jelas Fachruddin.

Disisi lain Ketua RT pun ikut berkata “jangan disentuh dulu sebelum datang pihak kepolisian karena berdasarkan peraturan hukum yang berlaku, peristiwa apapun yang terjadi maka Tempat Kejadian Perkara (TKP) harus diketahui oleh pihak kepolisian agar dalam proses hukum memiliki Bahan Bukti (B2) dalam bentuk Barang Bukti (BB) yang jelas yang bisa dijadikan Alat Bukti (AB)”, tegasnya meyakinkan.

Senada dengan itu Supir angkot juga ikut berkomentar “naikan saja ke mobil saya segera, penumpang lain bisa turun, agar bisa mendahulukan pihak korban untuk dibawa ke rumah sakit”, yang tidak kalah pentingnya Tukang ojek pun ikut berbicara “lebih baik naik ojek saja, ongkos tidak mahal, satu motor bisa tiga orang, korban duduk ditengah, hindari macet bisa liwat jalan tikus”, ungkapnya melalui tulisan dalam bentuk cating

Senada dan seirama dengan itu semua sejumlah Wartawan segera mengkonfirmasi pihak pihak terkait “siapakah saksi mata atas peristiwa ini saya akan lakukan konfirmasi ?”.

“Akibat banyaknyaknya proses dan cara pandang tersebut yang seharusnya korban bisa tertolong dan terselamatkan tapi ternyata sebaliknya yang ada justru sia sia belaka, sebab pihak korban belum sempat diangkat dan dibawa ke rumah sakit, terlalu lama terkapar yang mengakibatkan keburu meninggal dunia di tempat”

Dalam mengolah suatu rumusan Fachruddin menyampaikan tidak langsung menarik suatu kesimpulan akan tetapi ia ramu dalam bentuk beberapa pertanyaan.

“Bila kita mengkaji dari suatu peristiwa dan agar bisa tercipta suatu solusi yang tepat bila sewaktu waktu ada peristiwa yang disaksikan oleh panca indra kita maka akan muncul rasa yang terlukis di hati dan terukir dalam pemikiran dalam bentuk beberapa pertanyaan” lanjutnya.

pertama “Tindakan apa yang harus lebih dahulu kita lakukan ketika kita menyaksikan suatu peristiwa yang berhubungan dengan kecelakaan?”,

ke-dua “Apakah dalam melakukan tindakan untuk menyelematkan nyawa seseorang dalam suatu peristiwa kecelakaan harus memiliki target atau jangka waktu tertentu?”

dan ke-tiga “Apakah ruang atau tempat dalam melakukan tindakan medis menjadi unsur pendukung yang wajib dibutuhkan?”

“Dari uraian yang tergambarkan tersebut maka tindakan yang harus kita lakukan terlebih dahulu terhadap korban kecelakaan adalah kebutuhan akan kesehatan bukan kepentingan tertentu. Kebutuhan dalam melakukan pertolongan terhadap korban kecelakaan, tindakan yang tepat, waktu yang cepat serta tempat yang memadai. Bila itu semua dapat terkondisi secara sempurna sesuai tindakan, waktu dan tempat maka secara otomatis pihak korban kecelakaan akan terkendali secara setabil”. Tegasnya lagi.

“Jika dalam melakukan tindakan terhadap pihak korban kecelakaan masing masing pihak yang terkait memiliki pemikiran terhadap suatu kepentingan tertentu maka besar kemungkinan pihak korban kecelakaan tidak akan terselamatkan” tegasnya dalam meramu suatu rumusan.

Dari pandangan pandangan yang telah terolah dalam suatu rumusan tersebut maka Fachruddin langsung menetapkan suatu tiori yang didengar oleh Maha siswa sejumlah perguruan tinggi di Indonesia yang mengikuti acara Seminar Nasional (Online) tersebut.

“satu kepentingan dalam seribu kebutuhan otomatis manjur dan tuntas tapi sebaliknya seribu kepentingan dalam satu kebutuhan otomatis hancur dan berantakan”.

“Ini berlaku untuk semua kebutuhan dan semua kepentingan, untuk itu bila Para Pemegang kebijakan menetapkan suatu aturan untuk suatu kebutuhan maka harus berimbang antara kebutuhan dan kepentingan agar kebutuhan terwujud secara tuntas tidak berantakan”, tegasnya.

Menyikapi segala yang terkait dengan System Penanganan Problematika COVID-19, yang dilakukan oleh Para Pemegang kebijakan Fachruddin tidak mengkeritik kelompok tertentu akan tetapi berusaha ciptakan suatu solusi yang tepat dalam bentuk beberapa pertanyaan.

“Apakah Para penguasa sesuai tingkat dan lingkup kekuasaan telah bisa menetapkan suatu kebijakan terkait Penanganan Problematika COVID-19 tidak sebatas memihak kepada kelompok tertentu untuk suatu kepentingan tertentu ?”.

“Apakah Para penguasa sesuai tingkat dan lingkup kekuasaan telah bisa menetapkan suatu kebijakan terkait Penanganan Problematika COVID-19, yang memiliki Setandar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dan memiliki kekuatan hukum tetap dalam bentuk kepastian hokum ?”.

“Apakah Para penguasa sesuai tingkat dan lingkup kekuasaan dalam membuat suatu kebijakan terkait Penanganan Problematika COVID-19, telah memiliki keseimbangan antara kebutuhan setandar kesehatan, kepentingan hukum dan konstitusi, kepentingan ketahanan dan pertahanan Nasional dan perlindungan hukum terhadap suatu keyakinan dalam agama yang dianut” ?

Penulis : Fachrudin

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bc Meximas Web Solutions