Dalam rangka menyikapi situasi, kondisi dan posisi seluruh unsur lapisan masyarakat Indonesia baik atas nama individu atau kelompok tertentu dari waktu ke waktu banyak memiliki berbagai bentuk, jenis, rupa dan macam ide yang muncul dalam bentuk aspirasi yang dapat mengakibatkan terjadinya pro dan kontra maka Presidium Indonesia Maju (PIM) usulkan ke Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) program Pengolahan Aspirasi Satu Atap (PAS).

Usulan tersebut diajukan oleh PIM ke Presiden RI (Joko Widodo) melalui Surat Permohonan Audiensi Nomor 01 / I – 1 / PIM / I / 2020.M, tanggal 15 Januari 2020, Tentang Pembahasan Program Pembangunan Pengolahan Aspirasi Satu Atap (PAS).

Agar usulan tersebut dapat dipertimbangkan sesuai isi materi sekaligus dapat menyeimbangkan dengan program Kementerian terkait maka Usulan tersebut ditembuskan ke beberapa menteri yaitu Menteri Sekretaris Negara, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Dalam Negeri, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Menteri Pertahanan termasuk Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

Direncanakan yang akan ikut dalam audiensi tersebut sesuai tertulis dalam usulan sejumlah 7 orang masing masing adalah Mohamad Fitrah (Penasehat) perwakilan dari Sosial Ekonomi Pancasila (SEP), Tatang Priatna (Pengawas) perawakilan dari Perkumpulan Suara Rakyat Merdeka (PSRM), Fachruddin (Ketua Umum) perwakilan dari Yayasan Bina Umat (YBU), Ruly Yudhistira (Sekretaris Umum) perwakilan dari Forum Anti Narkotika Indonesia (PANATIK Indonesia), TB Moh. Soleh (Bendahara Umum) perwakilan dari Yayasan Keluarga Besar Pejuang “45 (YKBP “45), Arfiansyah (Ketua Bidang Humas) perwakilan dari Yayasan Tiara Eva dan Rizal Nainggolan (Ketua Bidang Dokumentasi) perwakilan dari Media Informasi Pikiran Bangsa (PB),

Untuk mekanisme pelaksanaan program Pengolahan Aspirasi Satu Atap (PAS) akan disampaikan saat berlangsungnya audiensi dalam bentuk lisan dan tulisan yang termuat dalam proposal, sedangkan mekanisme pelaksanaan program PAS secara detail dan terperinci akan dibuat Setandar Oprasional Prosedur (SOP) setelah usulan PIM direkomendasi oleh Presiden RI – Joko Widodo.

Kepada sejumlah Wartawan pada acara Jumpa Pers (22/01/2020) Ketua Umum Presidium Indonesia Maju (Ketum PIM) – Fachruddin mengatakan bahwa diterima atau tidaknya program PAS yang diusulkan ke Joko Widodo itu bukan merupakan suatu hambatan bagi PIM untuk tidak bisa ikut andil dalam membangun Indonesia.

“PIM tetap semangat dan berupaya untuk bisa ikut menciptakan solusi untuk bangsa dan negara termasuk membantu mensosialisasikan program pemerintah pada tiap tingkat dan lingkup, jadi bukan merupakan hambatan bagi PIM untuk tidak bisa ikut andil dalam membangun Indonesia walau usulan usulan PIM tidak diterima”, katanya.

“Yang jelas jangan sampai ada pihak pihak yang merasa terganggu atas adanya usulan ini yang seolah olah merasa tersaingi sehingga usulan PIM tidak tersentuh ke tangan Joko Widodo”, tegasnya.

“Ada suatu cerita, pada jaman dulu kala dalam dunia entah berantah dalam suatu kisah menceritakan peperangan antara dua negara yaitu Negara Timur dan Negara barat, terjadinya peperangan tersebut di Negara Barat, ketika Tentara Timur telah menang perang ternyata kehabisan peluru dan bahan makanan yang dapat mengakibatkan patal, sehingga tentara timur lari sambil menahan lapar untuk pulang ke negaranya di Timur, sedangkan tentara barat yang masih memiliki peluru dan banyak bahan makanan lari juga dengan kencang mengejar tentara timur, ketika Tentara Timur sampai dipinggir pantai ternyata tentara timur tidak bisa menyebrang ke kapal yang berada di tengah laut karena dipinggir pantai ada ikan ikan yang mulutnya mancung lagi tajam yang mengakibatkan tentara timur terkapar tidak bisa menyeberang ke kapal”, katanya.

“Setelah beberapa malam tentara timur terkapar di pinggir pantai, segala cara sudah dicoba tapi tidak membuahkan solusi ternyata ada seorang anak yang ingin menyampaikan usulan kepada jendral pemimpin perang tentara timur melalui seorang kapten, karena kapten merasa takut posisinya atau pangkatnya terganggu jika solusi tersebut bisa datang dari anak tersebut maka seorang kapten tidak mau melayani justru dimarah dan diusir”, lanjutnya.

“Peristiwa anak yang dimarah dan diusir oleh kapten tersebut ternyata diketahui oleh Jendral pemimpin perang Tentara Timur, karena Jendaral tersebut tergolong orang yang bijak, mau mendengar aspirasi dari siapapun maka jendral memerintahkan kepada bala tentara timur untuk mencari anak kecil tersebut, setelah anak kecil tersebut menghadap kepada Jendral maka anak kecil tersebut langsung mengusulkan untuk menebang bambu muda dan pohon pisang yang ada di pinggir pantai, bambu muda dijadikan tali dan diikatkan kepada pohon pisang, pohon piang lemparkan ke laut dan talinya dipegang oleh bala tentara, ketika pohon pisang sudah berada di tengah laut maka pasti ikan yang mulutnya mancung lagi tajam akan menusukan mulutnya ke pohon pisang yang tidak mungkin bisa lepas, saat mulut ikan sudah menuncep pohon pisang maka tali bambu ditarik ke pinggir pantai, tentu dengan cara tersebut ikan yang mulut panjang bisa tertangkap semua untuk dijadikan bahan makanan dan bala tentara bisa menyeberang ke kapal” ungkapnya.

“Itu cerita atau dongeng yang tidak jelas kapan terjadinya peristiwa tersebut, tapi bukan itu yang saya maksud melainkan hikmah dibalik cerita tersebut” kata Fachruddin

Menyikapi keterangan yang disampaikan Fachruddin, Sekretaris Umum PIM – Ruly Yudhistira mengatakan bahwa program PIM sangat baik karena program PIM bukan sebatas kepentingan kelompok tertentu akan tetapi untuk kepentingan bangsa dan negara.

“Program Pengolahan Aspirasi Satu Atap (PAS) yang diusulkan ke Joko Widodo bukan untuk kepentingan kelompok tertentu akan tetapi kepentingan bangsa dan negara yang merupakan hajat orang banyak”, tegas Ruly Yudhistira.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bc Meximas Web Solutions