Ketua Umum Gerakan Relawan Demokrasi dan Direktur Operasional Haidar Alwi Institut, hari ini melakukan aksi bersama dalam artian turun kejalan akan tetapi dengan cara pandang yang berbeda.
Ada beberapa kawan yang akan ke Jakarta melakukan gerakan geruduk Balai Kota, dan ini menciptakan suatu kondisi lapangan, dimana kubu seberang sanapun melakukan aksi gerakan menjaga Anies yang juga dilakukan oleh beberapa gerakan yang ada di dalamnya”, ujar Ketua Umum Gerakan Relawan Demokrasi Joshua Natipulu di Jakarta, Selasa (14/1).

Kita coba menengahi yang selama ini merasa bagian dalam kerugian masyarakat Jakarta menyebut gerakan hari ini Gerakan Jakarta Memanggil, kenapa? karena hari ini dukung mendukung sudah selesai.
Kami menyayangkan adalah hari ini terjebak dalam cara memandang yang sama, kita memandang sebagai warga Jakarta tetapi masih masih dengan cara memandang kemenangan, seperti dalam proses Pilkada, itu sangat membuat kami perlu bersikap jelas dengan tegas.

” Apapun yang terjadi hari ini, warga yang merasa rugi adalah warga Jakarta, baik yang memilih atau tidak memilih Gubernur hari ini menjadi korban”, lanjut Joshua.

Kami Menyepakati bahwasanya kami harus turun bersama, tegas mengatakan “stop kebencian” berdasarkan cerita masa Pilkada dan Pilpres. Kata cebong kampret dan kadrun menjadi warna dinamika hari ini mengisi Sosmed menjadi kata-kata pamungkas untuk menghantam,” terang Joshua.

Kami mengajak kawan-kawan menyatukan hati ….Ayo stop kebencian, ayo kita bangun persaudaraan kita sebangsa setanah air. Tidak ada lagi kata cebong dan kampret juga kardun tapi kata anak bangsa yang ingin bangsa ini jauh lebih maju terutama kota Jakarta”, tegas Joshua.

Kami bersama dengan Haidar Alwi Institute mengajak kawan-kawan yang berseberangan ( Anies )  maupun militan bersama-sama sudahi kebencian ini. Mengkritik bukan arti kita menyerang mengkritik bukan menjatuhkan menjaga bukan lupa dengan mengkritisi artinya kami mengatakan Anies Baswedan Gubernur terpilih Jakarta.
Sebagai warga Jakarta kami punya hak mengkritisi mengevaluasi segala kebijakan-kebijakan hari ini, Kami sebagai warga Jakarta tetap menjaga konstitusional menjaga Anies sebagai Gubernur hingga tahun 2022.
Bilamana hari ini terjadi visi yang sangat kuat atau kebijakan Gubernur DKI Jaya mengganggap ini semua bisa duduk bersama dalam suasana bersaudara kepala dingin dan bersikap.

” Sikap sebagai anak bangsa Jakarta menjadi lebih baik lagi hari ini”, ujar Joshua.

Haidar Alwi Institute, Garuda dan Gerima mengajak kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air lebih khusus warga Jakarta bersama-sama membangun kota Jakarta menjadi lebih baik.
Banjir kemaren adalah satu pembelajaran kita bersama, bahwa kerja Pemerintah yang lemah bukan tunduk, bisa dievaluasi, kerja Pemerintah yang juga bukan berarti tidak ada cacat hukumnya, kebijakan yang ada harus tetap terpantau agar tetap berjalan utuh dan baik.
“Bila mana permasalahan ini diserahkan ke Pimpinan Pusat itu adalah menjadi kesepakatan Pemerintah Pusat”,ujarnya.

Sementara ditempat yang sama Raja Malau Ketua Gerakan Indonesia Maju Jaya (Gerima) mengatakan,” Sebagai warga negra yang baik kami harap bahwa kritik yang membangun ini harus didengar pemerintah Daerah dan Pusat. Artinya tidak ada perdebatan dan pemisahan, Pemerintah Pusat harus sinkronisasi dengan Daerah, artinya program yang dijalankan Pemprov DKI Jaya harus seimbang dengan Pemeruntah Pusat”.

Saya ingin mengkritisi Pemprov DKI Jaya tidak boleh anti pati dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, begitu juga sebaliknya dan pendahulunya. contoh apa yang sudah dicanangkan Pemerintah Pusat dan pendahulunya seperti normalisasi wajib dilanjutkan itu tidak ada yang salah.
Menurutnya secara geografi kali ini intensitas hujan di Jakarta  lebih tinggi dibanding daerah lainnya seperti Bogor, Depok, Bekasi, dsn Tanggerang. Secara Fisika air turun ke bawah artinya apapun yang terjadi sekarang ini bentuk ketidak harmonisan daerah dan pusat.

Kami berpesan stop bully cebong dan kampret, kerja pemerintah Daerah dan Pusat harus tersingkornisasi, Anies harus berjiwa besar apa yang sudah dilakukan pendahulunya tidak usah malu, program yang dijalankan pusat dan apa yang dijalankan sebelumnya itu akan berhasil apabila sudah berhasil, ini satu prestasi bukan perorangan ini prestasi Jakarta dan Indonesia yang menikmati rakyat.

“Stop paradigma kebencian di Sosmed dan didunia nyata, kita bersatu mencari solusi terbaik, saya rasa solusi terbaik adalah normalisasi, lanjutkan normalisasi oleh pak Anis dan Pusat (PUPR)”, tegasnya.

Joshua menambahkan Haidar Alwi Institute, Garuda dan Gerima mendukung kinerja Kepolisian mengusut tuntas kelalian penanggulangan banjir kemarin, temuan d lapangan ada mesin pompa yang tidak bekerja”, kata Joshua.

“Kami meminta usut mesin yang tidak bekerja, kita sudah berdiskusi dengan kawan-kawan, dahulu mesin menyala kenapa bisa tidak menyala”, pungkas Joshua.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bc Meximas Web Solutions